Senin, 06 Juni 2011

BAHAN AJAR MENULIS KRITIK SASTRA




Nama                 : Rismayasari
NIM                    : 2108090249
Kelas                  : II – A
Prodi                   : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Mata Kuliah      : Pembelajaran Menulis

MENULIS KRITIK SASTRA

Pengertian Kritik Sastra
Menurut Wellek (1978) Kritik sastra adalah studi karya sastra yang konkret dengan penekanan pada penilaiannya. Flint dan Hibbard (1960) Kritik sastra adalah keterangan, kebenaran analisis atau judgment (penghakiman) atas suatu karya sastra. Abrams (1981) Kritik sastra adalah suatu studi yang berkenaan dengan pembatasan, pengkelasan, penganalisisan dan penilaian karya sastra. Hudson (1955) Kritik sastra dalam artinya yang tajam adalah penghakiman terhadap karya sastra yang dilakukan oleh seorang ahli atau yang memiliki kepandaian khusus untuk memudahkan pemahaman karya sastra, memeriksa kebaikan dan cacat-cacatnya dan menentukan pendapatnya tentang hal tersebut. Jassin (1945) Kritik sastra adalah pertimbangan baik buruk suatu karya sastra, seta penerangan dan penghakiman karya sastra. Pradopo (1994) Kritik sastra adalah ilmu sastra untuk “menghakimi” karya sastra, untuk memberikan penilaian dan memberikan keputusan bermutu atau tidak, suatu karya sastra yang sedang dihadapi kritikus. Rachmat Djoko Pradopo Kritik sastra adalah salah satu cabang studi karya sastra yang penting dalam kaitannya dengan ilmu sastra dan penciptaan sastra. Hardjana (1981) Kritik sastra adalah sebagai hasil usaha pembaca dalam mencari dan menentukan nilai hakiki karya sastra lewat pemahaman dan penafsiran sistemik: yang dinyatakan dalam bentuk tertulis.
Jadi, kritik sastra merupakan telaah terhadap suatu karya sastra yang bersifat menghakimi karya sastra orang lain, dengan cara menilai baik dan buruknya suatu karya sastra, membandingkan, serta mencari kesalahan karya sastra yang dihadapi, melalui pemahaman yang objektif.

Jenis-jenis Kritik Sastra
1.       Jenis Kritik Sastra Berdasarkan Bentuknya
Berdasarkan bentuknya, kritik sastra dibedakan menjadi kritik teoretik dan kritik praktik (Abrams,1981).
a.       Kritik teoretik adalah bidang kritik sastra yang berusaha menetapkan atas dasar prinsip-prinsip umum, seperangkat istilah-istilah yang tali-temali, perbedaan-perbedaan dan kategori-kategori untuk diterapkan pada kriteria (standar atau norma-norma) yang dengan hal tersebut karya sastra dan sastrawannya dinilai.
b.       Kritik praktik mengacu pada praktik kritik yang telah diterapkan oleh para kritikus dalam mengkritik karya sastra.
2.       Jenis Kritik Sastra Berdasarkan Pelaksanaannya
Menurut pelaksanaan (praktik) kritiknya, kritik sastra dibedakan menjadi kritik judisial,kritik iduktif dan kritik inpresionistik (Abrams dan Hudson via Pradopo, 1994).
a.       Kritik judusial adalah kritik sastra yang berusaha menganalisis dan menilai karya sastra atas dasar standar-standar umum tentang kehebatan atau keluarbiasaan sastra yang telah ditetapkan sebelumnya.
b.       Kritik iduktif adalah kritik sastra yang menguraikan bagian-bagian sastra berdasarkan fenomena-fenomena yang ada secara objektif.
c.        Kritik impresionistik adalah kritik sastra yang mengemukakan kesan-kesan (impresi) kritikus terhadap karya sastra yang telah dibacanya.
3.       Jenis Kritik Sastra Berdasarkan Orientasinya Terhadap Kasya Sastra
Berdasarkan orientasinya terhadap karya sastra, Abrams (1981) membedakan kritik mimetik, kritik pragmatik, kritik ekspresif, dan kritik objektif.
a.       Kritik mimetik adalah kritik yang berorentiasi atau memfokuskan perhatian pada hubungan karya sastra dengan realitas atau kenyataan.
b.       Kritik pragmatik adalah kritik yang berorientasi atau memfokuskan perhatian kepada tanggapan pembaca terhadap karya sastra dan dampak atau pengharu sastra pada pembaca.
c.        Kritik ekspresif adalah kritik sastra yang berorientasi atau memfokuskan perhatian kepada pengarang sebaai pencipta karya sastra.
d.       Kritik objektif adalah kritik yang berorentasi atau memfokuskan perhatian kepada karya sastra itu sendiri.
4.       Jenis Kritik Sastra Berdasarkan Kritikus dan Ragam Penulisannya (Pradopo, 1994)
a.       Kritik sastra akademik atau ilmiah adalah kritik sastra yang ditulis oleh para ahli sastra yang pada umumnya pada sarjana sastra dengan menggunakan teori dan metode ilmiah.
Kritik Sastra Akademik :
Kritik sastra Jurnalistik atau kritik sastrawan ditulis oleh para kritikus sastrawan ataupun umum dengan tidak mempergunakan teori dan metode ilmiah


Tujuan Kritik Sastra

1.       Pertimbangan atau penjelasan tentang karya sastra serta prinsip-prinsip terpenting tentang karya tersebut kepada penikmat yang kurang dapat memahaminya.
2.       Menerangkan seni imajinatif sehingga mampu memberikan jawaban terhadap hal-hal yang dipertanyakan pembaca.
3.       Membuat aturan-aturan untuk para pengarang dan mengatur selera pembacanya.
4.       Mengainterprestasikan suatu karya sastra terhadap pembaca yang tidak mampu memberikan apresiasi.
5.       Memberi keputusan atau pertimbangan dengan ukuran penilaian yang telah ditetapkan.
6.       Menemukan dan mendapatkan asas yang dapat menerangkan dasar-dasar seni yang baik.


                 Contoh Kritik Sastra


HIDUP DARI OMBAK

Dari pembacaan sepintas lalu, jelas bahwa ada dua unsur yang sangat                 menentukan pemahaman sajak “Ombak Itulah” yang pertama adalah judulnya. Pemakaian kata “itu” menyarankan kita berurusan dengan ombak yang sudah kita kenal, tetapi saran itu bertentangan dengan kenyataan bahwa kata itu terdapat pula pada awal sajak sehingga pemakaian anafora tidak mungkin dilakukan. Akibatnya kita terpaksa meninggalkan otonomi sajak ini.
Hal kedua yang menentukan interpretasi sajak ini adalah hubungan “aku-kau” yang sangat menonjol. Hubungan keduanya sangat erat dari awal sampai akhir, tetapi tidak dieksplisitkan. Dalam situasi semacam ini, saya terpancing untuk meneliti semua sajak yang terkandunng dalam kumpulan sajak tersebut. Saya mulai  membaca kumpulan ”Tergantung Pada Kata” yang memuat sajak “Ombak itulah”. Makin lama makin jelas bahwa dalam kumpulan sajak itu soal makna dan nilai lambang kata ombak,hubungan antara aku –kau sangat sering dijumpai. Dari 52 sajak dalam kumpulan ini, ada 38 sajak (75%) menyebutkan secara eksplisit kau dan aku.
Golongan sajak kedua menggunakan kau dan –mu yang  mejunjuk pada Tuhan. Namun ada kalanya ditulis dengan huruf  besar, ada kalanya tidak, walaupun menurut penafsiran saya kau dan -mu di sini juga menunjuk pada Tuhan……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

(Dikutip dari A. Teeuw. 1980. Tergantung Pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya, halaman 131-143)



Uraian Contoh

Berdasarkan contoh kritik sastra diatas, dapat disimpulkan bahwa di dalam  kumpulan sajak ”Tergantung Pada Angin” ada  sajak yang memuat sajak “Ombak Itulah” dan makna yang terkandung di daslam sajak tersebut menyarankan kita berurusan dengan ombak dalam pemakaian kata “itu”. Hal tersebut bertebtangan dengan kenyataan karena kata itu terdapat pula pada awal sajak sehimgga pemakaian anafora tidak mungkin dilakukan.
Dan hubungan “aku-kau” di dalam sajak tersebut sering dijumpai dan sangat berhubungan erat, namun tidak dieksplisitkan, yaitu dari 52 sajak ada 38 sajak yang menyebutkan secara eksplisit kata “aku-kau”. Serta adanya penulisan kata Tuhan pada golongan sajak kedua yang ditulis dengan huruf kecil (tuhan), seharunya ditulis dengan huruf besar (Tuhan).



Cara Menulis Kritik Sastra

1.       Sebelum memberi kritik, kritikus harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang hal yang akan dikritik. Sebagai contoh, jika akan mengkritik suatu cerpen, kritikus harus mempunyai pengetahuan luas tentang cerpen.
2.       Sebelum mengkritik, pelajari dengan cermat karya yang akan di kritik. Pahami segala istilah yang terdapat dalam karya. Baca juga bahan rujukan karya tersebut.
3.       Setelah itu, buatlah catatan objektif tentang kelebihan dan kekurangan hal yang akan dikritik.
4.       Sebelum kritik disampaikan, pikirkan kembali “bagaimanakah perasaan saya jika dikritik semacam ini?”
5.       Saat menyampaikan kritik, melalui tulisan atau lisan, perhatikan penggunaan bahasa. Gunakan bahasa yang tidak menyerang orangdan tidak menyakitkan hati. Beri penilaian yang jujur dan objektif, tetapi tetap santun. Kritik harus memiliki alasan yang masuk akal atau logis.




Kritik sastra memiliki peran sebagai jembatan penghubung antara karya sastra dengan masyarakat penikmat sastra. Sumbangan pikiran dan analisis pengkritik yang baik bisa menimbulkan minat yang menyala-nyala bagi pembaca-pembaca lain untuk membaca karya tersebut.
Disampingitu, kritik sastra dapat pula dijadikan alat pemandu bakat para penulis-penulis yang telah berkarya. Bahkan untuk pengarang, kritikus dapat menjadi propagandis yang baik bagi karya-karya mereka. Dalam mengemban misinya, para kritikus dituntut suatu rasa tanggung jawab dan kejujuran, terutama kejujuran dalam mengembangkan profesi dan kejujuran terhadap hati nurani.
Oleh karena itu, marilah kita menulis kritik sastra sebagai apresiasi kita terhadap suatu karya orang lain. Sehingga karya sastra kedepannya lebih berkembanh dan bernilai dalam meningkatkan kualitasnya.
Adapun manfaat menulis kritik:
1.       Kritik sastra berguna bagi perkembangan sastra
Dalam mengkritik, kritikus akan menunjukan hal yang bernilai/tidak bernilai dari suatu karya sastra. Kritikus bisa jadi akan menunjukan kebaruan-kebaruan dalam karya sastra, hal-hal apa saja yang belum digarap oleh sastrawan. Dengan demikian sastrawan dapat belajar dari kritik sastra untuk lebih meningkatkan kecakapannya dan memperluas cakrawala kreativitas, corak, dan mutu karya sastranya. Jika sastrawan-sastrawan dalam di negara tertentu mengahsilkan karya-karya yang baru, kreatif, dan berbobot, maka perkembangan sastra negara tersebut juga akan meningkat pesat, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Dengan kata lain, kritik yang dilakukan kritikus akan meningkatkan kualitas dan kreatifitas sastrawan, dan pada gilirannya akan meningkatkan perkembangan sastra itu sendiri.
2.       Kritik sastra berguna untuk penerangan bagi pembaca
Dalam melakukan kritik, kritikus akan memberikan ulasan, komentar, menafsirkan kerumitan-kerumitan, kegelapan-kegelapan makna dalam karya sastra yang dikritik. Dengan demikian, pembaca awam akan mudah memahami karya sastra yang dikritik oleh kritikus. Disisi lain, ketika masyarakat sudah terbiasa dengan apresiasi sastra, maka daya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra akan semakin baik. Masyarakat dapat memilih karya sastra yang bermutu tinggi (karya sastra yang berisi nilai-nilai kehidupan, memperhalus budi, mempertajam pikiran, kemanusiaan, dan kebenaran).


3.       Kritik sastra berguna bagi ilmu sastra itu sendiri
Analisis yang dilakukan kritikus dalam mengkritik tentulah didasarkan pada referensi-referensi, teori-teori yang akurat. Tidak jarang pula, perkembangan teori sastra lebih lambat dibandingkan dengan kemajuan proses kreatif pengarang. Untuk itu, dalam melakukan kritik, kritikus seringkali harus meramu teori-teori baru. Teori-teori sastra yang baru inilah yang justru akan semakin memperkembangkan ilmu sastra itu sendiri.
4.       Memberi sumbangan pendapat untuk menyusun sejarah sastra
Dalam melakukan kritik, kritikus tentu akan menunjukan ciri-ciri sastra yang dikritik secara struktural (ciri-ciri intrinsik). Tidak jarang pula kritikus akan mencoba mengelompokan karya sastra yang dikritik ke dalam karya sastra yang berciri sama. Kenyataan inilah yang dapat disimpulkan bahwa kritik sastra sungguh membantu penyusunan sejarah sastra.












DAFTAR PUSTAKA



Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Semi Atar. 1989. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.

Sayuti, Suminto A. dan Wiyatmi. 2008. Kritik Sastra. Jakarta: Universitas Terbuka.

Wellek Rene. 1978. Concep of Criticism.

Flint William, Hibbard Adaison. 1960. A Handbook to Literature.

Jassin H. B. 1945. Sastra Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay.

Pradopo. 1994. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra.

Hardjana Andre. 1981. Kritik Satra:Sebuah Pengantar.